AIRSPACE REVIEW – Majelis Rendah Parlemen Belarus dilaporkan telah meratifikasi rancangan undang-undang yang menyetujui perjanjian keamanan antara Belarus dan Rusia dalam kerangka Negara Kesatuan.
Perjanjian tersebut memformalkan kerja sama keamanan antara kedua negara dan menetapkan komitmen pertahanan bersama, termasuk pengaturan pangkalan militer untuk Federasi Rusia di wilayah Belarus.
Perjanjian yang ditandatangani di Minsk pada 6 Desember 2024 tersebut kini memerlukan persetujuan dari Majelis Tinggi Parlemen Belarus sebelum ditandatangani oleh Presiden Belarus Alexander Lukashenko.
Kesepakatan tersebut bertepatan dengan pembahasan mengenai penempatan sistem rudal balistik jarak menengah Rusia Oreshnik di Belarus.
Kepala departemen kedua negara-negara CIS di Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa penempatan akan dilakukan setelah ratifikasi perjanjian tersebut.
Sebelumnya, dalam pertemuan Dewan Negara Tertinggi Negara Kesatuan pada 6 Desember 2024, Lukashenko meminta pengerahan rudal Oreshnik di Belarus, dengan alasan masalah keamanan terkait aktivitas militer NATO di Polandia dan Lithuania.
Lukashenko menyatakan bahwa sistem rudal tersebut akan berfungsi sebagai pencegah dan sejalan dengan kebijakan keamanan Belarus.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Rusia Vladimir mengatakan bahwa pengerahan rudal dapat dilakukan pada paruh kedua tahun 2025, tergantung pada kecepatan produksi serial dari Oreshnik.
Ditambahkan oleh Putin, meskipun rudal tersebut akan diintegrasikan ke dalam Pasukan Rudal Strategis Rusia, otoritas Belarus akan menentukan parameter penargetan.
Oreshnik merupakan rudal balistik terbaru Rusia, memiliki jangkauan maksimum 5.500 km, kecepatan luncur hingga 10 Mach (12.400 km/jam), dan dapat membawa hulu ledak seberat 1,5 ton.
Sistem rudal Oreshnik pertama kali digunakan dalam pertempuran pada 21 November 2024, dalam sebuah serangan terhadap fasilitas pertahanan di Dnipro, Ukraina. (RBS)