AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Rusia telah memberikan peringatan terhadap Amerika Serikat (AS) terkait niat Paman Sam yang akan memasok bom cluster ke Ukraina.
Bila Ukraina menggunakannya, maka Rusia akan terpaksa menggunakan senjata yang sepadan dalam medan tempur Ukraina.
Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu menekankan bahwa Rusia juga memiliki bom cluster, bahkan lebih efektif daripada senjata milik AS, dengan jangkauan yang lebih luas dan pilihan jenis yang lebih beragam.
Nah, salah satu bom cluster terbaru yang dimiliki militer Rusia adalah PBK-500U Drel yang dikembangkan oleh NPO Bazalt.
PBK-500U Drel merupakan bom cluster glide (luncur) yang dilepaskan dari pesawat tempur/pembom seperti MiG-29, Su-35, dan Su-34 atau Tu-22M3.
Dijatuhkan dari ketinggian 14.000 m, kemudian bom akan meluncur hingga jarak 30–50 km. Bom dibekali sistem bimbingan panduan inersia/GLONASS menjadikannya sangat presisi.
Senjata maut ini dirancang untuk menghancurkan kelompok kendaraan lapis baja, bangunan musuh serta kumpulan pasukan lawan.
Bom dengan berat 450 kg ini dapat dijejali dengan beragam submunisi. Salah satunya membawa 15 submunisi antitank SPBE-K penargetan sendiri berupa pencari inframerah dan pencari radar dengan panjang gelombang milimeter.
PBK-500U Drel juga dilengkapi dengan sistem Identifikasi Kawan atau Lawan (IFF) dan penanggulangan elektronik sehingga tahan terhadap jamming dan deteksi radar lawan.
NPO Bazalt tengah mempertimbangkan untuk melengkapi PBK -500U Drel dengan mesin pulsejet untuk meningkatkan jangkauannya.
Jika benar-benar digunakan, maka palagan Rusia-Ukraina akan menjadi debut bom tandan yang resmi dimiliki militer Rusia sejak 2018 lalu.
-RBS-