AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Setelah heboh satelit mata-mata China yang menyelonong masuk ke wilayah udara Kanada dan Amerika Serikat dan berhasil ditembak oleh F-22 dan F-16 milik USAF, kini muncul berita baru yang masih terkait dengan balon tak diundang tersebut.
Pentagon pada 22 Februari 2023 merilis foto-foto selfie pilot U-2 Dragon Lady dengan latar belakang balon mata-mata China tersebut, sehari sebelum balon itu ditembak menggunakan rudal AIM-9X dari F-22.
Gambar beresolusi tinggi yang dirilis tersebut memperlihatkan balon mata-mata China yang diambil dari pesawat U-2. Pada gambar itu bahkan terlihat bayangan pesawat U-2 di balon China yang berwarna putih.
Dapat digambarkan, seorang pilot U-2 melihat ke balon pengintai China itu yang menurut data diambil pada 3 Februari 2023.
U-2 Dragon Lady adalah pesawat mata-mata legendaris AS di mana pesawat ini pada saat Perang Dingin melakukan penerbangan mata-mata di atas wilayah Uni Soviet dan berhasil ditembak oleh Uni Soviet menggunakan rudal darat ke udara S-75 Dvina pada 1 Mei 1960.
Dapat dimaklumi bila U-2 dikerahkan USAF untuk mengintai balon mata-mata China. Sebab, pesawat ini dapat terbang hingga ketinggian lebih dari 70.000 kaki. Sementara balon mata-mata China, yang diakui Beijing sebagai balon sipil untuk memonitor cuaca, saat sebelum ditembak terbang pada ketinggian 60.000-65.000 kaki.
Chris Pocock, seorang penulis dan pakar U-2, adalah yang pertama kali mengunggah foto itu secara online di situs web Dragon Lady Today miliknya pada 21 Februari.
Wakil Sekretaris Pers Pentagon Sabrina Singh mengonfirmasi keaslian gambar tersebut pada 22 Februari, dan Departemen Pertahanan segera merilis gambar tersebut, tulis Air and Space Forces Magazine.
Pengamatan lebih dekat pada bagian tengah memperlihatkan detail penting tambahan, termasuk piringan putih yang relatif besar atau antena mirip piringan di tengah.
“Citra beresolusi tinggi dari terbang lintas U-2 mengungkapkan bahwa balon ketinggian tinggi itu mampu melakukan operasi pengumpulan sinyal intelijen,” kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri pada 9 Februari.
Gambar yang dirilis oleh Departemen Pertahanan AS menunjukkan seorang pilot U-2S Angkatan Udara AS melihat balon di atas Pusat Benua Amerika Serikat pada 3 Februari.
Sehari setelah itu, balon mata-mata China tersebut ditembak jatuh di lepas pantai Carolina Selatan pada 4 Februari oleh jet tempur siluman F-22 Raptor dari Joint Base Langley-Eustis, Virginia.
U-2 dapat membawa berbagai muatan pengawasan, termasuk peralatan optik canggih.
Penerbangan U-2 juga menegaskan bahwa pesawat itu mengandalkan panel surya besar untuk menyalakan sensornya, kata pejabat senior Departemen Luar Negeri.
Panel surya terlihat jelas pada gambar yang dirilis tersebut. Dalam foto ini juga terlihat empat aksesori putih secara simetris, yang tampak seperti kubus baling-baling dengan baling-baling yang terhubung.
Pentagon sebelumnya mengonfirmasi bahwa balon itu dapat bermanuver, tetapi tidak memberikan rinciannya.
Balon itu tingginya mencapai 200 kaki dan beratnya beberapa ribu kilogram, menurut Jenderal Glen D. VanHerck, kepala Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara (NORAD) dan Komando Utara AS (NORTHCOM).
Penggemar intelijen sumber terbuka di Twitter telah bekerja untuk mencoba melakukan geolokasi gambar. Ada indikasi bahwa foto dibuat di atas negara bagian Missouri, di sebelah barat kota St. Louis. Posisi itu sejalan dengan jalur balon saat melintasi Amerika Serikat bagian barat tengah.
Seorang pejabat militer AS sebelumnya mengatakan, penerbangan U-2 memberi Komando Utara AS otoritas hukum yang diperlukan untuk membantu pemerintah AS mengumpulkan informasi tentang balon tersebut, karena militer AS tidak berwenang untuk melakukan intelijen dengan penerbangan di atas AS tanpa izin khusus.
Pejabat militer tersebut mengatakan bahwa kemampuan intelijen, pengawasan dan pengintaian lainnya juga digunakan oleh militer AS untuk mengumpulkan informasi tentang balon China.
-Poetra-