AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Ukraina mendesak Amerika Serikat untuk memberikan bantuan berupa jet tempur modern F-16 Fighting Falcon guna mengatasi pertempuran udara melawan pesawat-pesawat Rusia.
Menjawab permintaan tersebut, pejabat senior Angkatan Udara AS (USAF) mengatakan, F-16 membutuhkan pelatihan lanjutan dan hingga saat ini bukan bagian dari bantuan yang diberikan, seperti diberitakan Air Force Magazine (29/4).
Sebelumnya, lebih dari 40 negara berkumpul di Pangkalan Udara Ramstein di Jerman pada 26 April untuk mempertimbangkan jenis senjata apa yang akan diberikan kepada Ukraina, termasuk munculnya permintaan bantuan kekuatan udara seperti pesawat tempur F-16.
Seperti diketahui, perang di Ukraina sekarang bergeser ke front timur di wilayah Donbas, di mana senjata jarak jauh sangat dibutuhkan.
Baru-baru ini, Angkatan Udara Ukraina telah memperluas pesanannya di luar jet era Soviet yang sudah mereka kuasai cara penggunaannya seperti MiG-29 dan Su-24.
Ukraina mendesak jet Amerika modern seperti F-15, F-16, dan F/A-18 untuk mendapatkan keunggulan udara.
Namun Komandan Angkatan Udara AS Eropa Jenderal Jeffrey L. Harrigian mengatakan, bantuan semacam itu tidak instan.
“Itu tidak terjadi dengan cepat,” kata Harrigian selama wawancara di Ramstein Officer’s Club, tempat pertemuan itu berlangsung.
“Pada akhirnya, kami harus memanfaatkan apa yang mereka miliki dan menawarkan beberapa fitur unik lainnya untuk membuat masalah menjadi menantang, dan kemudian ada pandangan jangka panjang,” tambahnya.
“Jelas mereka ingin bermigrasi dari kemampuan Rusia ke AS, tetapi itu membutuhkan waktu,” kata Harrigan.
Pada 8 Maret, Polandia menawarkan pengiriman 23 jet tempur MiG-29 dari stok yang dimiliki ke Ramstein untuk dikirim oleh Amerika Serikat ke Ukraina.
Usulan yang disampaikan secara terbuka oleh menteri luar negeri Polandia itu telah ditolak oleh Departemen Pertahanan AS.
Komandan Angkatan Udara Komando Eropa AS Jenderal semua D. Wolters kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengatakan langkah itu dapat dilihat sebagai “eskalasi”.
Menteri Pertahanan Polandia Mariusz Blaszczak mengatakan pengiriman MiG sekarang akan membutuhkan konsensus di antara negara-negara NATO.
“Itu harus menjadi keputusan yang dibuat oleh seluruh aliansi NATO,” kata Blaszczak.
-Poetra-