AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Angkatan Darat India pada 23 Juni menerbitkan permintaan informasi rinci (RFI) dari pemasok yang meminta mengajukan proposal Kendaraan Tempur Infanteri Masa Depan (FICV).
AD India menetapkan bahwa FICV akan dibeli dengan semangat program “Make in India” dan “Atmanirbhar Bharat” (self-reliant).
Tujuannya adalah untuk membeli hingga 1.750 FICV dalam tiga versi yakni angkut bersenjata (IFV), pos komando, dan versi komando & pengawasan.
Versi lFV dirancang untuk peran angkut pasukan dan tempur, akan menjadi bagian terbesar dari jumlah pesanan yang diinginkan yakni mencapai 55 persen.
AD India mensyaratkan bahwa versi IFV harus dilengkapi dengan setidaknya kanon utama 30 mm dan rudal anti-tank. Kendaraan harus mampu membawa awak tiga dan delapan tentara.
Versi Pos Komando akan digunakan oleh komandan medan perang untuk mengarahkan operasi dan berkomunikasi dengan berbagai staf/tingkat komando.
AD India telah menetapkan bahwa versi pos komando serta komando & pengawasan mampu membawa drone kamikaze untuk misi pengawasan dan serangan bunuh diri. Dengan awak tiga dan membawa empat tentara.
Selain munisi berkeliaran (drone kamikaze), RFI Angkatan Darat India menetapkan versi komando & pengawasan harus membawa satu UAV VTOL (lepas landas dan mendarat vertikal) mini yang memiliki daya tahan setidaknya 60 menit dan jangkauan 10 km.
UAV VTOL ini harus memberikan citra berwarna dan video definisi tinggi real-time ke awak FICV untuk memungkinkan keterlibatan dengan sistem senjata lain seperti mortir, munisi berkeliaran, artileri medan, dan helikopter serang.
Dalam proyek FICV ini AD India bermaksud untuk menggantikan ranpur era 1980-an BMP-2 buatan Uni Soviet yang diproduksi di India oleh Ordnance Factory Board (OFB) dinamai Sarath.
Diketahui AD India masih mengoperasikan sekitar 1.900 BMP ll yang seharusnya sudah mulai digantikan secara bertahap mulai 2017.
Menurut laporan TheWeek, lebih dua dekade proyek pengganti BMP-2 ini telah gagal. Dimulai dari proposal DRDO (Defence Research Development Oranisation) dengan Abhay (Fearless) pada akhir 1990.

Belakangan beberapa proposal lain juga pernah ditawarkan, dimana proyek ini juga melibatkan perusahaan swasta dalam negeri.
Contohnya prototipe FICV Mark l, hasil kemitraan OFB bersama DRDO. Lalu FICV yang dirancang dan dikembangkan oleh perusahaan TATA.
Adapun proposal lainnya datang dari perusahaan Bharat Earth Movers milik negara, lalu konsorsium Larsen & Toubro, dan Mahindra Defense.
Proyek FICV ini memang menggiurkan. Disebutkan angka awal untuk pembelian sekitar 3.000 kendaraan dengan nilai total 10 miliar dolar.
Namun demikian usulan-usulan tersebut belum membuahkan hasil.
Rangga Baswara Sawiyya