AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) dikabarkan telah memilih untuk mendapatkan 90 Eurofighter Typhoon, 30 F/A-18E/F Super Hornet, dan 15 EA-18G Growler daripada membeli F-35 Lightning II untuk mengganti armada Panavia Tornado.
Super Hornet dipilih sebagai platfom untuk membawa bom nuklir B61 sesuai kebutuhan NATO. Untuk itulah, dalam rencana pembelianpengganti Tornado itu Jerman membaginya kepada Airbus dan Boeing.
Sementara Growler juga dipilih untuk menggantikan peran Tornado dalam hal melaksanakan misi peperangan elektronik.
Akan tetapi, peneliti mengatakan, pesawat yang dapat membawa bom B61 adalah Hornet, bukan Super Hornet. Oleh karena itu, Jerman harus menunggu terlebih dahulu sampai Super Hornet mendapatkan sertifikasi untuk dapat membawa bom tersebut.
Seperti Airspace Review pelajari dari pemberitaan Handelsblatt dan Defense News, pembelian Typhoon sangat didukung oleh keputusan politis di mana Airbus terlibat dalam produksi pesawat ini.
Dengan membeli Typhoon, Jerman juga telah membantu industri pertahanan Eropa untuk mengembangkan pesawat tempur generasi keenam FCAS (Future Combat Air Systems).
Typhoon akan dipertahankan sebagai jet tempur perantara generasi keempat dan keenam. Saat ini Luftwaffe memiliki sekira 141 Typhoon dan 93 Tornado.

Sementara F-35 sejak akhir tahun lalu telah disingkirkan dari opsi pilihan. Hal ini membuat Amerika Serikat kecewa.
Di sisi yang lain, F-35 saat ini memang tidak dapat membawa bom B61. Walaupun, ada rencana dari pihak pabrikan untuk mengintegrasikan bom ini pada F-35 Block 4.
Rekomendasi Luftwaffe untuk membeli pesawat-pesawat yang telah disebutkan di atas, memang belum mendapatkan persetujuan dari Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer.
Namun demikian, tampaknya pembelian ini tampaknya akan segera direalisasikan dan Luftwaffe akan mendapatkan pesawat-pesawat tersebut mulai 2025.
Pesawat akan digunakan minimal hingga tahun 2040 saat Jerman dan Perancis sudah memiliki pesawat tempur baru FCAS.
Roni Sontani
Pilihan cerdas…f35 bukan hanya mahal harga unit tapi biaya terbang dan maintenancenya mahal juga..belum lagi masalah embargo….semoga RI ga jadi beli tuh barang
Benar sudah bayar mahal diembargo lagi. udah tuh tetangga kita ada beberapa yang menjadi konco dari Amrik. kita tinggal dikunci saja. habis
Kalau saya beli aja f16 viper, karena kita sudah pakai, jd untuk pemeliharaan dan pilot sdh siap, training sebentar sudah ok.
Iya gak sih. Ini hanya pemikiran saya aja.